Kisah Keluarga Penjual Jamu Gendong: DULU PAS-PASAN, SEKARANG BISA MENABUNG

Juli 25, 2008

Semangat hidup tinggi, membuahkan hasil mengejutkan. Itulah yang dialami suami istri Tri Sudaryanto (51 tahun) dan Sumarni (41 tahun). Dulu penghasilan hanya pas –kadang kurang – untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sekarang dengan penghasilan Rp 240 ribu per hari keluarga ini malah bisa menabung.

Tahun 2002 adalah awal keluarga dengan dua anak tersebut membalik kebiasaan hidup. Sebelumnya Yanto – panggilan akrab Tri Sudaryanto – sopir truk angkutan dan istrinya ibu rumah tangga murni. Sekarang mereka berjualan jamu gendong keliling kampung.

Ditemui di rumahnya Rejowinangun, Kotagede, Yogyakarta, Kamis 24 Juli 2008 sore, Yanto sedang menumbuk rempah-rempah, Sumarni merebus air dengan bahan bakar kayu. Baik rempah-rempah maupun air merupakan bahan membuat jamu. Gubug produksinya terletak di sebuah tebing pinggir Sungai Gajah Wong.

”Awalnya kepepet, hasil sebagai sopir tidak cukup untuk menutup kebutuhan hidup harian. Kami harus balik haluan. Padahal jujur saja, kami tidak punya pengalaman tentang jamu,” kata Yanto sambil terus menumbuk karena waktu semakin sore.

Ilmu tentang jamu gendong diperoleh dari beberapa tetangga. Di kampung tersebut ada sekitar 10 penjual jamu gendong. Setelah yakin dengan kemampuannya, pada pertengahan Mei 2002 pasangan tersebut ”mendeklarasikan” sebagai penjual jamu.

Yanto menyisihkan uang Rp 50 ribu sebagai modal awal. Oleh istrinya uang tersebut dibelanjakan beberapa bahan pokok di Pasar Beringharjo yang jaraknya sekitar lima kilometer dari rumah. Malang memang tak bisa ditolak, uang justru hilang di pasar.

”Untungnya istri punya modal cadangan. Dengan modal tidak seberapa itulah, kami mulai berdagang jamu gendong,” papar Yanto yang benar-benar menggunakan prinsip ”sersan” (serius tapi santai) untuk menjalani hidup.

Tiga jenis jamu yang pertama kali dijual adalah beras kencur, kunir asem, dan uyup-uyup. Jamu dijual secara berkeliling oleh Sumarni menggunakan sepeda. Pengalaman hari pertama memperoleh hasil Rp 28.000, dari pukul 07.00 hingga 09.00.

”Senang banget. Dengan hasil itu bisa menabung Rp 3 ribu tiap hari. Sebelumnya kan tidak pernah bisa menabung,” kisah Sumarni dengan wajah berbinar.

Perjalanan hidup berangsur baik. Produksi jamu terus meningkat, selain penghasilan semakin besar, jam kerja juga bertambah. Kini setiap hari Sumarni mengedarkan 80 liter jamu terdiri dari beras kencur, kunir asem, uyup-uyup, galian singset, pegel linu, dan penambah nafsu makan.

Jam kerja juga tidak main-main. Produksi dimulai pukul 14.30-18.00 dengan menumbuk beberapa bahan dan merebus puluhan liter air. Kemudian 01.00-06.00 menumbuk lagi beberapa bahan lain yang memang harus ditumbuk mendadak. Pada proses menumbuk tadi sekaligus membuat ”biang” atau ”bibit” jamu. Dengan takaran tertentu, ”bibit” ini ditambah air matang agar siap minum.

Pukul 06.00-11.00 Sumarni berkeliling menjual jamu, Yanto mencuci botol minuman kemasan. Botol digunakan untuk pembeli yang menginginkan jamu dibawa pulang. Harga jamu per botol jamu 600 mililiter Rp 2.000, sedangkan ukuran 1,5 liter Rp 4.000. Dalam sehari menghabiskan sekitar 80 botol kecil dan 15 botol besar. Botol ini diperoleh dengan cara membeli.

Untuk minum di tempat menggunakan gelas, harganya tidak sama, tergantung kemampuan pembeli. Orang kaya – dilihat dari penampilan – diberi harga Rp 1.000, sedangkan yang tidak mampu cukup membayar Rp 500 per gelas. Keuntungan penjualan sekitar 40 persen, tidak termasuk tenaga yang dikeluarkan.

”Kami orang tidak punya, sehingga tahu betul mengeluarkan uang Rp 1.000 bukan hal mudah. Ukuran kami ya hanya dengan melihat saja, tidak perlu menunjukkan surat keterangan miskin,” kata Yanto sambil tertawa.

Gempa bumi Mei 2006 sempat memporakporandakan hidup keluarga ini. Rumah di bibir tebing Sungai Gajah Wong itu tidak bisa dihuni, tidak roboh tetapi retak dan miring, serta beberapa bagian lepas. Mereka mendirikan rumah darurat di tanah milik saudaranya di dekat lokasi itu juga.

Seminggu kemudian, dari rumah darurat itu pasangan ini memaksakan diri berjualan jamu kembali, karena hanya dari situlah menggantungkan hidup. Seperti dari awal, karena hampir semua konsumen juga menjadi korban gempa bumi.

Perlahan tapi pasti, kehidupan mereka pulih. Dana rekonstruksi rumah untuk korban gempa, meski tidak utuh – harusnya Rp 15 juta, tapi hanya menerima Rp 11 juta – sangat membantu dalam membangun rumah kembali. Agar dana cukup, Yanto memanfaatkan sisa bangunan korban gempa lainnya.

Semangat berjualan semakin menyala ketika menerima bantuan Rp 700 ribu dari Dinas Perdagangan untuk pembelian alat produksi pengusaha kecil korban gempa.

Selain kerja keras, pasangan ini juga memperhatikan masa depan dua anaknya. Arif Joko Wicaksono sekarang kelas 9 (atau III) SMP 5 Yogyakarta, Rudi Kurniawan kelas 7 (atau I) SMP 9 Yogyakarta. Dua sekolah ini termasuk favorit di Yogyakarta.

”Rencana kami, anak sulung mendaftar di SMK, biar cepat dapat bekerja,” kata Yanto dan Sumarni hampir berbarengan. (*)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.