<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Inilah Hidup</title>
	<atom:link href="http://heruprass.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://heruprass.wordpress.com</link>
	<description>Mengetahui kehidupan orang lain, untuk memperbaiki kehidupan diri sendiri</description>
	<lastBuildDate>Fri, 25 Jul 2008 09:45:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='heruprass.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Inilah Hidup</title>
		<link>http://heruprass.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://heruprass.wordpress.com/osd.xml" title="Inilah Hidup" />
	<atom:link rel='hub' href='http://heruprass.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>WEDANG UWUH BERKHASIAT ASAL IMOGIRI</title>
		<link>http://heruprass.wordpress.com/2008/07/25/wedang-uwuh-berkhasiat-asal-imogiri/</link>
		<comments>http://heruprass.wordpress.com/2008/07/25/wedang-uwuh-berkhasiat-asal-imogiri/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jul 2008 09:45:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>heruprass</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://heruprass.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Kata “uwuh” berasal dari Bahasa Jawa, yang jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia adalah sampah dedaunan. Dalam perkembangannya, kata “uwuh” juga bermakna sampah secara umum, sehingga mengesankan kotor dan becek. Nama Wedang Uwuh justru mengundang orang untuk datang, karena kesegaran dan khasiat yang ada. Kata “wedang” juga berasal dari Bahasa Jawa yang artinya adalah minuman. Sehingga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=heruprass.wordpress.com&amp;blog=4320094&amp;post=8&amp;subd=heruprass&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
<a href='http://heruprass.wordpress.com/2008/07/25/wedang-uwuh-berkhasiat-asal-imogiri/wedanguwuh-6/' title='wedanguwuh-6'><img width="72" height="96" src="http://heruprass.files.wordpress.com/2008/07/wedanguwuh-6.jpg?w=72&#038;h=96" class="attachment-thumbnail" alt="wedanguwuh-6" title="wedanguwuh-6" /></a>
<a href='http://heruprass.wordpress.com/2008/07/25/wedang-uwuh-berkhasiat-asal-imogiri/wedanguwuh-4/' title='wedanguwuh-4'><img width="128" height="96" src="http://heruprass.files.wordpress.com/2008/07/wedanguwuh-4.jpg?w=128&#038;h=96" class="attachment-thumbnail" alt="wedanguwuh-4" title="wedanguwuh-4" /></a>
Kata “uwuh” berasal dari Bahasa Jawa, yang jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia adalah sampah dedaunan. Dalam perkembangannya, kata “uwuh” juga bermakna sampah secara umum, sehingga mengesankan kotor dan becek.</p>
<p>Nama Wedang Uwuh justru mengundang orang untuk datang, karena kesegaran dan khasiat yang ada. Kata “wedang” juga berasal dari Bahasa Jawa yang artinya adalah minuman. Sehingga Wedang Uwuh adalah minuman yang bahan bakunya dedaunan.</p>
<p>Wedang Uwuh merupakan minuman khas Imogiri, Kecamatan Bantul, Provinsi DIY. Bahan bakunya rempah khas Indonesia, yaitu daun dan ranting cengkeh, daun pala, daun manis jangan, kayu secang, jahe, ditambah gula batu. Macam-macam rempah itu diseduh dengan air mendidih, kemudian diseruput sedikit demi sedikit.</p>
<p>“Khasiatnya tidak main-main. Batuk, capek, masuk angin, pegal, dan kembung berangsur hilang setelah minum Wedang Uwuh,” kata Sudaryadi (40 tahun) anak sulung Ny Wajirah (58 tahun) cikal bakal munculnya Wedang Uwuh di situ.</p>
<p>Ny Wajirah yang menjanda sejak tahun 2002 menceritakan ihwal munculnya sebutan “uwuh” untuk minuman segar ramuannya. Sejak umur 10 tahun perempuan ini sudah membantu bibi berjualan Wedang Cengkeh dan Wedang Jahe dengan gula batu. Lokasi berjualan di kompleks Makam Raja-raja Imogiri.</p>
<p>Setelah menikah tahun 1967 dia dan suami sempat mengadu peruntungan nasib di Jakarta. Sembilan tahun kemudian mereka pulang lagi ke Imogiri dan menggeluti kesibukan sehari-hari sebagai penjual minuman di tempat semula. Sekitar tahun 1989 dagangannya ditambah nasi pecel kembang turi.</p>
<p>Ketika terjadi gempa bumi 27 Mei 2006 silam, rumah tinggal Ny Wajirah rusak berat, hampir roboh, sehingga harus mengungsi di rumah darurat. “Tapi itu tidak lama. Dalam kondisi rumah masih rusak, saya kembali berjualan wedang dan pecel. Hidup kan tetap harus berjalan, tidak boleh berhenti,” kata perempuan yang sempat sekolah hingga kelas 3 SD ini dalam Bahasa Jawa.</p>
<p>Isi minumannya ditambah tidak hanya cengkeh atau jahe, tapi tujuh macam dicampur jadi satu. Awalnya orang meragukan kesegaran minuman tanpa nama tersebut, tetapi ketika mencoba malah ketagihan. Di antara para pelanggan di warung Ny Wajirah adalah wartawan yang sedang meliput situasi pasca gempa bumi.</p>
<p>“Dari para wartawan juga nama Wedang Uwuh saya terima. Awalnya mereka menyebut Wedang Sampah, wah saya keberatan karena terkesan jorok dan kotor. Uwuh itu memang sampah tapi berupa dedaunan,” jelasnya.</p>
<p>Tentang bahan baku, tidak sulit dipeorleh. Hampir setiap hari selalu ada orang menyetor ke warung ini.</p>
<p>Lokasi warungnya sangat strategis. Dari kantor Kecamatan Imogiri ke arah timur atau arah Makam Raja-raja melalu jalan aspal berkelok sekitar satu kilometer. Begitu melewati Mapolsek Imogiri, sekitar 200 meter kemudian terpampang dengan jelas spanduk bertuliskan Warung Bu Yani Spesial Wedang Uwuh di kanan jalan.</p>
<p>Mengapa Warung Bu Yani buka Bu Mujirah? “Yani itu anak saya ke dua. Nama dia lebih gampang diingat ketimbang nama saya,” tutur Ny Mujirah.</p>
<p>Harga per porsi (gelas) jika diminum di tempat Rp 1.500, tetapi jika paket siap seduh untuk dibawa pulang hanya Rp 1.000 per bungkus. Ditambah nasi pecel kembang turi Rp 5.000 per porsi, keinginan menikmati suasana damai pun bakal terwujud. Hal itu masih ditambah keramahan keluarga Ny Wajirah kepada setiap pengunjung.</p>
<p>Begitu diseduh dengan air panas, Wedang Uwuh menghadirkan warna air yang cokelat kemerahan. Tujuh macam unsur bergelut di dalam satu gelas, seakan ingin berlomba memperlihatkan diri. Agar bisa ditambah air panas sampai tiga kali, cara mengaduknya cukup pelan-pelan sehingga gula batu tidak mencair seluruhnya.</p>
<p>Waktu paling tepat menikmati minuman ini ketika cuaca dingin, misalnya malam atau pagi hari. Karena itulah warung Ny Mujirah buka sejak pukul 04.00 hingga 22.00. Asyik juga dinikmati setelah lelah olahraga di seputaran Makam Raja-raja.</p>
<p>Karena permintaan pelanggan, beberapa waktu itu mereka mulai membuat kemasan Wedang Uwuh dalam plastik sederhana seharga Rp 1.000 per bungkus. Satu kemasan cukup diseduh dengan air panas dalam satu gelas. Hanya saja disarankan, seluruh bahan – kecuali gula batu – dicuci lebih dulu sebelum diseduh.</p>
<p>Banyak pengunjung dari luar kota seperti Jakarta dan Semarang yang memborong Wedang Uwuh kemasan. Ada juga yang memesan secara khusus, baik sekadar untuk minuman di rumah atau suvenir acara-acara tertentu. Dalam sehari Ny Mujirah menghabiskan sekitar 300-400 porsi, baik diminum di tempat maupun kemasan.</p>
<p>“Soal keuntungan saya tidak bisa menghitung, yang pasti cukup untuk hidup saya dan anak-anak, bahkan sedikit demi sedikit bisa menabung,” ungkap Ny Mujirah yang di warungnya juga tersedia aneka makanan tradisional.</p>
<p>Kini di sekitar Ny Mujirah ada sekitar 20 penjual Wedang Uwuh. Mereka sama-sama mengadu keberuntungan dengan minuman dedaunan berkhasiat. (*)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/heruprass.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/heruprass.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/heruprass.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/heruprass.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/heruprass.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/heruprass.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/heruprass.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/heruprass.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/heruprass.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/heruprass.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/heruprass.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/heruprass.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/heruprass.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/heruprass.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/heruprass.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/heruprass.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=heruprass.wordpress.com&amp;blog=4320094&amp;post=8&amp;subd=heruprass&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://heruprass.wordpress.com/2008/07/25/wedang-uwuh-berkhasiat-asal-imogiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9defa7647afa057494fe7f43c0fccf59?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">heruprass</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://heruprass.files.wordpress.com/2008/07/wedanguwuh-6.jpg?w=72" medium="image">
			<media:title type="html">wedanguwuh-6</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://heruprass.files.wordpress.com/2008/07/wedanguwuh-4.jpg?w=128" medium="image">
			<media:title type="html">wedanguwuh-4</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Keluarga Penjual Jamu Gendong: DULU PAS-PASAN, SEKARANG BISA MENABUNG</title>
		<link>http://heruprass.wordpress.com/2008/07/25/kisah-keluarga-penjual-jamu-gendong-dulu-pas-pasan-sekarang-bisa-menabung/</link>
		<comments>http://heruprass.wordpress.com/2008/07/25/kisah-keluarga-penjual-jamu-gendong-dulu-pas-pasan-sekarang-bisa-menabung/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jul 2008 09:33:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>heruprass</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://heruprass.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Semangat hidup tinggi, membuahkan hasil mengejutkan. Itulah yang dialami suami istri Tri Sudaryanto (51 tahun) dan Sumarni (41 tahun). Dulu penghasilan hanya pas –kadang kurang – untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sekarang dengan penghasilan Rp 240 ribu per hari keluarga ini malah bisa menabung. Tahun 2002 adalah awal keluarga dengan dua anak tersebut membalik kebiasaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=heruprass.wordpress.com&amp;blog=4320094&amp;post=3&amp;subd=heruprass&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://heruprass.files.wordpress.com/2008/07/yantojamu-2.jpg"><img src="http://heruprass.files.wordpress.com/2008/07/yantojamu-2.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" class="alignnone size-medium wp-image-6" /></a>Semangat hidup tinggi, membuahkan hasil mengejutkan. Itulah yang dialami suami istri Tri Sudaryanto (51 tahun) dan Sumarni (41 tahun). Dulu penghasilan hanya pas –kadang kurang – untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sekarang dengan penghasilan Rp 240 ribu per hari keluarga ini malah bisa menabung.</p>
<p>Tahun 2002 adalah awal keluarga dengan dua anak tersebut membalik kebiasaan hidup. Sebelumnya Yanto – panggilan akrab Tri Sudaryanto – sopir truk angkutan dan istrinya ibu rumah tangga murni. Sekarang mereka berjualan jamu gendong keliling kampung.</p>
<p>Ditemui di rumahnya Rejowinangun, Kotagede, Yogyakarta, Kamis 24 Juli 2008 sore, Yanto sedang menumbuk rempah-rempah, Sumarni merebus air dengan bahan bakar kayu. Baik rempah-rempah maupun air merupakan bahan membuat jamu. Gubug produksinya terletak di sebuah tebing pinggir Sungai Gajah Wong.</p>
<p>”Awalnya kepepet, hasil sebagai sopir tidak cukup untuk menutup kebutuhan hidup harian. Kami harus balik haluan. Padahal jujur saja, kami tidak punya pengalaman tentang jamu,” kata Yanto sambil terus menumbuk karena waktu semakin sore.</p>
<p>Ilmu tentang jamu gendong diperoleh dari beberapa tetangga. Di kampung tersebut ada sekitar 10 penjual jamu gendong. Setelah yakin dengan kemampuannya, pada pertengahan Mei 2002 pasangan tersebut ”mendeklarasikan” sebagai penjual jamu.</p>
<p>Yanto menyisihkan uang Rp 50 ribu sebagai modal awal. Oleh istrinya uang tersebut dibelanjakan beberapa bahan pokok di Pasar Beringharjo yang jaraknya sekitar lima kilometer dari rumah. Malang memang tak bisa ditolak, uang justru hilang di pasar.</p>
<p>”Untungnya istri punya modal cadangan. Dengan modal tidak seberapa itulah, kami mulai berdagang jamu gendong,” papar Yanto yang benar-benar menggunakan prinsip ”sersan” (serius tapi santai) untuk menjalani hidup.</p>
<p>Tiga jenis jamu yang pertama kali dijual adalah beras kencur, kunir asem, dan uyup-uyup. Jamu dijual secara berkeliling oleh Sumarni menggunakan sepeda. Pengalaman hari pertama memperoleh hasil Rp 28.000, dari pukul 07.00 hingga 09.00.</p>
<p>”Senang banget. Dengan hasil itu bisa menabung Rp 3 ribu tiap hari. Sebelumnya kan tidak pernah bisa menabung,” kisah Sumarni dengan wajah berbinar.</p>
<p>Perjalanan hidup berangsur baik. Produksi jamu terus meningkat, selain penghasilan semakin besar, jam kerja juga bertambah. Kini setiap hari Sumarni mengedarkan 80 liter jamu terdiri dari beras kencur, kunir asem, uyup-uyup, galian singset, pegel linu, dan penambah nafsu makan.</p>
<p>Jam kerja juga tidak main-main. Produksi dimulai pukul 14.30-18.00 dengan menumbuk beberapa bahan dan merebus puluhan liter air. Kemudian 01.00-06.00 menumbuk lagi beberapa bahan lain yang memang harus ditumbuk mendadak. Pada proses menumbuk tadi sekaligus membuat ”biang” atau ”bibit” jamu. Dengan takaran tertentu, ”bibit” ini ditambah air matang agar siap minum.</p>
<p>Pukul 06.00-11.00 Sumarni berkeliling menjual jamu, Yanto mencuci botol minuman kemasan. Botol digunakan untuk pembeli yang menginginkan jamu dibawa pulang. Harga jamu per botol jamu 600 mililiter Rp 2.000, sedangkan ukuran 1,5 liter Rp 4.000. Dalam sehari menghabiskan sekitar 80 botol kecil dan 15 botol besar. Botol ini diperoleh dengan cara membeli.</p>
<p>Untuk minum di tempat menggunakan gelas, harganya tidak sama, tergantung kemampuan pembeli. Orang kaya – dilihat dari penampilan – diberi harga Rp 1.000, sedangkan yang tidak mampu cukup membayar Rp 500 per gelas. Keuntungan penjualan sekitar 40 persen, tidak termasuk tenaga yang dikeluarkan.</p>
<p>”Kami orang tidak punya, sehingga tahu betul mengeluarkan uang Rp 1.000 bukan hal mudah. Ukuran kami ya hanya dengan melihat saja, tidak perlu menunjukkan surat keterangan miskin,” kata Yanto sambil tertawa.</p>
<p>Gempa bumi Mei 2006 sempat memporakporandakan hidup keluarga ini. Rumah di bibir tebing Sungai Gajah Wong itu tidak bisa dihuni, tidak roboh tetapi retak dan miring, serta beberapa bagian lepas. Mereka mendirikan rumah darurat di tanah milik saudaranya di dekat lokasi itu juga.</p>
<p>Seminggu kemudian, dari rumah darurat itu pasangan ini memaksakan diri berjualan jamu kembali, karena hanya dari situlah menggantungkan hidup. Seperti dari awal, karena hampir semua konsumen juga menjadi korban gempa bumi.</p>
<p>Perlahan tapi pasti, kehidupan mereka pulih. Dana rekonstruksi rumah untuk korban gempa, meski tidak utuh – harusnya Rp 15 juta, tapi hanya menerima Rp 11 juta – sangat membantu dalam membangun rumah kembali. Agar dana cukup, Yanto memanfaatkan sisa bangunan korban gempa lainnya.</p>
<p>Semangat berjualan semakin menyala ketika menerima bantuan Rp 700 ribu dari Dinas Perdagangan untuk pembelian alat produksi pengusaha kecil korban gempa. </p>
<p>Selain kerja keras, pasangan ini juga memperhatikan masa depan dua anaknya. Arif Joko Wicaksono sekarang kelas 9 (atau III) SMP 5 Yogyakarta, Rudi Kurniawan kelas 7 (atau I) SMP 9 Yogyakarta. Dua sekolah ini termasuk favorit di Yogyakarta.</p>
<p>”Rencana kami, anak sulung mendaftar di SMK, biar cepat dapat bekerja,” kata Yanto dan Sumarni hampir berbarengan. (*)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/heruprass.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/heruprass.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/heruprass.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/heruprass.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/heruprass.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/heruprass.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/heruprass.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/heruprass.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/heruprass.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/heruprass.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/heruprass.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/heruprass.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/heruprass.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/heruprass.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/heruprass.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/heruprass.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=heruprass.wordpress.com&amp;blog=4320094&amp;post=3&amp;subd=heruprass&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://heruprass.wordpress.com/2008/07/25/kisah-keluarga-penjual-jamu-gendong-dulu-pas-pasan-sekarang-bisa-menabung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9defa7647afa057494fe7f43c0fccf59?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">heruprass</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://heruprass.files.wordpress.com/2008/07/yantojamu-2.jpg?w=225" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://heruprass.wordpress.com/2008/07/25/hello-world/</link>
		<comments>http://heruprass.wordpress.com/2008/07/25/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jul 2008 02:12:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>heruprass</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=heruprass.wordpress.com&amp;blog=4320094&amp;post=1&amp;subd=heruprass&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/heruprass.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/heruprass.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/heruprass.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/heruprass.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/heruprass.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/heruprass.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/heruprass.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/heruprass.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/heruprass.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/heruprass.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/heruprass.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/heruprass.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/heruprass.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/heruprass.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/heruprass.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/heruprass.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=heruprass.wordpress.com&amp;blog=4320094&amp;post=1&amp;subd=heruprass&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://heruprass.wordpress.com/2008/07/25/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9defa7647afa057494fe7f43c0fccf59?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">heruprass</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
